IKHLAS IBARAT MENAMPI BERAS

Tengku M Muhar Omtatok

oleh: TM Muhar Omtatok

Beberapa tahun lalu, saya membawa tiga helai karpet yang sudah berdebu dari rumah saya ke tukang pembersih karpet. Kebetulan saya sudah saling kenal dengan tukang karpet itu.

Dari pada ke tukang karpet yang belum kenal, lebih baik saya bawa ke tempat yang saya kenal, salain saling membantu, tentu saya rasa lebih punya nilai plus jika berurusan dengan orang yang sudah kita kenal.

Beberapa hari kemudian saya mengambil tiga helai karpet yang sudah bersih itu dari binatu ambal tersebut. Ketika hendak membayar jasa pembersihan karpet tersebut, ternyata saya diminta lebih mahal dari harga umum. Saya bayar dengan sedikit rasa lain.

Beberapa bulan lalu, tukang karpet itu datang ke praktek saya. Katanya ia tidak ingin membuka usaha binatu ambal lagi, semakin sepi saja pelanggan. Pendapatan tiga hari habis untuk kebutuhan satu hari, alasannya.

“Saya ingin jadi tabib saja. Karena itu saya datang kemari. Saya mau belajar pengobatan tradisional dengan Spiritualis Omtatok. Bisakah saya diajari secara gratis?”, pintanya.

Aduhai, saya seorang manusia biasa. Memori saya masuk ke lorong waktu, ketika sang binatu ini meminta harga yang tidak wajar saat saya meminta jasanya untuk membersihkan tiga karpet dulu.

Sejenak saya terdiam. Keikhlasan saya teruji. Duh, Sang Maha! Saat itu juga, saya sms seorang sahabat, untuk membicarakan kondisi dilematis ini. Alamak jang, saya yang biasa dijadikan sebagai sosok tempat orang berkonsultasi, kali ini saya masuk dalam ruang ambiguitas.

“Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas”, balasan sms dari seorang sahabat kepada saya, terasa menampar wajah saya.

Ampunkan saya Sang Khalik, saya sudah membuat ruang khusus bagi setan di relung rasa. Meskipun berat, saya harus ikhlas dan melupakan memori picik itu.

Sebuah cerita lain, seorang rekan sesama spiritualis pernah menuduh saya menyantet. Saat itu seorang pasien berkonsultasi dengan keluhan tersendiri kepada rekan spiritualis tersebut. Sang rekan saya itu mengatakan bahwa si pasien telah disantet. Anehnya, sayalah sosok yang dituduh dan dipersalahkan sebagai tukang santet itu. Padahal saya sama sekali tidak terlibat dalam kasus itu. Ampunkan saya dan rekan saya itu, Sang Maha!

Satu waktu, rekan saya ini meminta pertolongan kepada saya. Dia berhadapan pada sebuah peristiwa yang ia anggap berat.

Saya tidak ingin ada kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh. Inilah friksi, hal yang tak dapat dihindarkan dalam kehidupan. Bahkan partikel teringan dari debu yang terbawa angin pun tidak lolos dari friksi. Dan itu tidak boleh dibiarkan.
Sempat saya meneteskan airmata saat fitnah itu menimpa saya. Kali ini, airmata kembali menetes. Namun bukan pada memori itu. Tapi airmata yang jatuh menangisi kekecilan diri saya dihadapan sang Pemilik Maha.

Kata “saya” dalam dua contoh diatas, mungkin saja bisa terganti menjadi kata “anda” ataupun “kita”. Karena kitalah manusia itu. Mim Nasia, tempat lupa. “Manusia tempat salah dan lupa” begitulah ungkapan suci dari Rasul.

Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa memberi sesuatu lantaran adanya sebab, seperti kasihan, prihatin, iba dan sebagainya, itu belum bisa dikategorikan sebagai ikhlas. Namun tidak lebih sebagai suatu bentuk kerelaan atau ketulusan hati saja yang bisa menjadi sebagai pemuasan hawa nafsu dan ego saja. Namun memberi atas dasar rasa kasihan atau iba pun itu sudah cukup baik. Terlebih lagi jika kita bisa berlaku ikhlas.
Berlaku ikhlas memang berat. Jika dalam memberi sesuatu masih mudah, ringan dan enteng berarti kita belum masuk dalam kategori ikhlas tapi baru sekadar rela atau tulus. Dalam memberi sesuatu kepada orang lain terkadang muncul rasa berat dalam hati kita karena berbagai faktor dan alasan.

Ada perbedaan antara ikhlas dan tulus. Ikhlas itu, merelakan sesuatu yang terasa berat. Tulus itu adalah kerelaan hati karena faktor adanya rasa senang atau tidak ada beban. Ikhlas memiliki kedudukan atau derajat yang tinggi di mata Tuhan.

Kita tahu, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan dirinya murni hanya untuk Sang Empunya Maha saja dengan segala pengabdian dan tidak mencari tandingan terhadap-Nya dan tidak pula ‘pamer’ dalam berbuat. Hingga ada niat mengharap ridha Sang Khalik saja dalam laku hingga memurnikan niat dari kotoran yang merusak.

Ikhlas ibarat orang yang sedang menampi beras dari kerikil-kerikil, antah dan melukut di sekitar beras. Maka beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan antah. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan laku menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, laku yang dijalankan dengan riya akan menyebabkan tamasya ini tidak lagi indah. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. Saatnya saya belajar. Semoga!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s