MENJADI CERDAS

Tengku Muhar Omtatok
oleh: M Muhar Omtatok

Selama ini, Kecerdasan Intelligensi (IQ) dianggap sesuatu yang sangat luar biasa dan berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Adanya sebuah istilah IQ Jongkok, istilah anak Medan, diperuntukkan untuk seseorang yang dianggap tidak cerdas.

Saat seorang anak tidak mendapat juara di sekolahnya, orangtua bisa mencak-mencak memarahi si anak karena dianggap malas belajar. Tidak sedikit orangtua yang mengiming-imingi anaknya dengan berbagai hadiah jika mendapat juara di sekolahnya. Inilah bukti bahwa masyarakat kita masih memandang Kecerdasan Intelligensi (IQ) merupakan satu-satunya tujuan yang mesti diraih.

Akhirnya, menetaslah generasi yang mampu menghafal mati dan mengamini segala sesuatu yang didengar dan dilihat, tanpa mampu mendewasakan alam fakir, merenungkan segala yang dilihat dan didengar. Munculnya generasi robot tanpa mampu beretika dan menganalisa, sehingga setiap informasi yang didapat, itulah yang dianggap sebuah kebenaran.

Sebenarnya, manusia setidaknya memiliki tiga piranti kecerdasan. Piranti kecerdasan itu adalah otak, hati, dan spiritual. kecerdasan otak berkaitan dengan Intelligence Quotient (IQ). kecerdasan hati berhubungan dengan Emotional Quotient (EQ). Sedangkan piranti kecerdasan spiritual berjalinan dengan SQ (Spiritual Quotient).

Saya menukil beberapa istilah dalam sebuah Kitab Suci yang selalu memberi peringatan positif kepada manusia dalam menyikapi hidup, yaitu: “Afala Ta’qilun (apakah kamu tidak memakai nalar), Afala tatadzakkarun (apakah kamu tidak menganalisa), Afala tubsirun (apakah kamu tidak memperhatikan), Afala Tatafakkarun (apakah kamu tidak menggunakan fikiran), Afala yatadabbarun (apakah kamu tidak berkontemplasi) dan lainnya”.

Inilah tamasya terindah dan tercerdas dalam sebuah kehidupan. Saatnya Syariat tidak cuma berdiri sendiri, namun hakikat dan makrifat juga tidak bisa tertinggal. Artinya, Kecerdasan Spiritual bukan cuma bicara laku ibadah rutinitas yang tandus, tapi sekaligus masuk secara ikhlas ke area yang lebih esensi dan lebih mengenal.

Disinilah saatnya otak kita menghasilkan empat jenis gelombang secara bersamaan, beta, alfa, theta, dan delta. Saat itu pula terjadi keseimbangan hormonal. Hormon serotonin muncul untuk mengatur amarah, agresif yang berlebih, temperatur tubuh, mood, tidur, seks, spritualitas, nafsu makan dan metabolisme.

Hormon endorfin yang bekerja bertentangan dengan hormon andrenalin, turut membantu relaksasi, namun bagi yang masih menzikirkan tidur adalah segalanya, hormon ini juga turut menidurkan anda. Tapi sadarlah, tidur cuma relaksasi tubuh bukan berlebihan. Hormon melatonin yang dikeluarkan kelenjar pineal akan menjadi jam alami bagi tubuh.

Saat piranti kecerdasan berupa otak, hati, dan spiritual berjalan seimbang dan penuh syukur, maka hormon-hormon yang menyebabkan stress, misalnya, akan mengalami penurunan.

Inilah buah dari kecerdasan majemuk yang bisa kita miliki secara bersamaan. Ketika Sang Empunya Maha mempertanyakan kepada kita sebagai pelaksana tugas di muka bumi, “Apakah kamu tidak memakai nalar?, apakah kamu tidak menganalisa?, apakah kamu tidak memperhatikan?, apakah kamu tidak menggunakan fikiran?, apakah kamu tidak berkontemplasi?, dan lain sebagainya”. Saatnya kita terpanggil dengan himbauan Sang Ilahi itu, untuk bisa memanusiakan diri pribadi dan memanfaatkan anugrah kemampuan untuk menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan belajar.

3 responses to “MENJADI CERDAS

  1. bagaiman masa depan , saya pengen menikah ama wanita yang saya cintai n bagaimana keluarga merustuinya dan bagaimana membuat keluarga yang harmonis

    Spiritualist Omtatok menjawab:
    Bung Yudi yang suka sepakbola, “berakit-rakit dahulu, berenang kemudian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.
    Jadilah diri anda sendiri, lakukan yang terbaik menurut pola anda. Saya yakin kelak semuanya baik-baik saja. Untuk menempuh sebuah keluarga yang harmonis, jadikan agama sebagai wajah keluarga yang anda bina.

  2. perlu ditambah lagi tu mas..” apakah kamu tidak pakai rasa (sirrullah)..”

  3. Nimbrung urun renbug Omtatok. Dalam buku “Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan” diuraikan, bahwa kecerdasan paripurna akan tercapai dengan cara mensinergikan kecerdasan pikiran (IQ, EQ dan SQ) dengan kecerdasan hati (aql, qalb, dzauq, shadr, fuad, bashirah dan lubb).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s